Nama : Trisna Shinta Dewi
NIM : 145213030
Prodi : D-III Administrasi Bisnis
SOAL DAN JAWABAN MATERI
SISTEM PENGAWASAN KANTOR
1. Apa
tujuan pengawasan kantor. Berdasarkan teori yang ada!
Beberapa
tujuan pengawasan administarsi kantor menurut Odges (2005) adalah:
a. Meningkatkan
kinerja organisasi secara kontinu, karena kondisi persaingan usaha yang semakin
tinggi menununtut organisasi untuk setiap saat mengawasi kinerjanya.
b. Meningkatkan
efesiensi dan keuntungan bagi organisasi dengan menghilangkan pekerjaan yang
tidak perlu atau mengurangi penyalahgunaan alat atau bahan.
c. Menilai
derajat penyampaian rencana kerja dengan hasil aktual yang dicapai, dan dapat
dipakai sebagai dasar pemberian kompensasi bagi seorang pegawai.
d. Mengkoordinasikan
beberapa elemen tugas atau progam yang dijalankan.
e. Meningkatkan
keterkaitan terhadap tujuan organisasi agar tercapai
2. Apa Manfaat pengawasan dan kontrol pada perusahaan!
Bebrapa
manfaat kontrol administrasi kantor menurut Quible (2001) antara lain:
a. Membantu
memaksimalkan keuntungan yang diperoleh organisasi
b. Membantu
pegawai dalam meningkatkan produktivitas karena kesadaran akan kualitas dan
kuantitas output yang dibutuhkan
c. Menyediakan
alat ukur produktivitas pegawai atau aktifitas yang objektif bagi organisasi
d. Mengidentifikasi
beberapa hal yang membuat rencana yang tidak sesuai dengan hasil aktual yang
dicapai, dan memfasilitasi pemodifikasinya
e. Membantu
pencapaian kerja sesuai tingkat atau deadline yang ditetapkan
3. Apa saja unsur-unsur pengawasan? Jelaskan berdasarkan
teori!
Menurut
Quible (2001), proses pengawasan akan kurang optimal jika unsur-unsur dibawah
dibawah ini dihilangkan:
a. Faktor-faktor
yang diawasi.
Sebelum
pengawasan dilakukan seyogyanya stakeholders internal diberikan pemahaman
tentang faktor-faktor apa saja yang akan di awasi. Tentu saja, pengawasan
terhadap faktor yang tidak terlalu penting akan mengakibatkan waktu dan tenaga
terbuang sia – sia.
b. Identifikasi
hasil yang diharapkan
Identifikasi parameter yang kurang jelas mengenai
hasil yang diinginkan dari aktivitas pekerjaan yang dilakukan membuat
pengawasan tidak akan berjalan dengan efektif. Untuk itulah, keterlibatan semua
pihak (termasuk pihak yang akan di awasi) mutlak perlu dilakukan, bila perlu
organisasi dapat mengundang konsultan untuk menentukan alat ukur yang akan
digunakan.
c. Pengukuran
kinerja
Sebelum
hasil aktual dan hasil yang di inginkan dibandingkan, hasil aktual harus di
ukur. Dalam beberapa hal, pengukuran ini juga menjelaskan output kuantitas.
Dalam organisasi yang menerapkan konsep TQM, pengukuran lebih ditekankan pada
seberapa baik pelanggan dilayani oleh organisasi.
d. Aplikasi
tindakan pembenahan
Apabila
hasil aktual kurang dari hasil yang diharapkan, perlu dilakukan tindakan
koreksi untuk memperkecil gap yang terjadi dengan mengimplementasikan hal
yang di anggap perlu. Misalnya, dalam pemenuhan order pembelian yang akan
terealisasi maksimal 3 hari setelah order dilakukan tetapi ketika sudah
waktunya belum tercapai, ternyata fasilitas komunikasi antara divisi
administrasi penjualan dengan gudang tidak difasilitasi dengan alat komunikasi
yang memadai, sehigga perlu ditunjang dengan alat komunikasi yang
representatif.
4. Jelaskan
Proses pengawasan kantor. Berdasarkan teori!
Berdasarkan pendapat Cascio (2003),
ada 3 proses yang harus dilakukan dalam mengontrol pekerjaan administrasi
kantor:
a. Mengidentifikasi parameter pekerjaan
yang akan diawasi
Hal
ini akan membantu pegawai untuk mengetahui kinerja yang diharapkan terhadap
mereka dan secara efektif dapat mencapainya. Manajer dapat melakukannya dengan melakukan
hal-hal berikut:
ü Penetapan tujuan
Dalam
beberapa penelitian yang berbeda, tempat maupun budaya menunjukan bahwa tujuan
yang telah ditetapkan dapat meningkatkan kinerja pegawai (Matsui, Kakuyama, dan
Onglatco, 1987). Peningkatan ini diperoleh karena pegawai cenderung memberikan
perhatian lebih dan mendorong mereka untuk mencapainya jika tujuan atau target
yang harus dicapai dijelaskan secara detail (Tubbs, 1986), seperti peningkatan
kepuasan pelanggan sebesar 10% dalam setahun atau pengurangan biaya telepon
sebesar 15% dalam setahun.
ü Standart ukuran
Standar
ukuran merupakan syarat mutlak agar pegawai dapat mencapai kinerja yang
diharapkan apabila alat ukurnya ditetapkan secara objektif. Untuk itulah,
tujuan hendaknya ditetapkan sedetail mungkin sehingga pengukuran yang objektif
dapat dilakukan. Misalnya, Tujuan organisasi “menjadikan organisasi lebih baik”
sangat sulit untuk di ukur. Menurut Leonard dan Hilgert (2004), terdapat dua
standar yang dapat digunakan oleh organisasi:
·
Standar terukur, merupakan standar kerja yang dapat
diidentifikasi dan diukur dengan mudah. Misalnya, teller disebuah bangk
ditargetkan untuk melayani 20 orang dalam menyelesaikan transaksi (penarikan,
penyimpanan, maupun pembayaran), sehingga rata-rata nasabah dapat dilayani selama
3 menit.
·
Standar tak terukur, merupakan standar kerja yang sulit
untuk dikuantifikasikan dan biasanya berhubungan dengan karakteristik hubugan
manusia, seperti sikap terhadap pelanggan, tingkat moral yang tinggi, dan
tingkat kepuasan terhadap pelayanan administrasi di kantor.
ü Pengukuran
Merupakan
inti dari pengontrolan atau pengawasan kantor. Hendaknya pengukuran ini
dilakukan secara reguler, bisa per kuartal maupun semester, untuk menjamin
tercapainya tujuan secara konsisten. Apabila penetapan tujuan maupun ukuran
telah dilakukan dengan baik, namum proses pengukuran kinerja tidak dilakukan
sebagaimana mestinya, maka akan menyebabkan keseluruhan proses pengontrolan
tidak berjalan sebagaimana mestinya.
b. Memfasilitasi kinerja yang hendak
dicapai.
Apabila
proses pertama telah dilakukan, manajer administrasi hendaknya memberikan
feedback kepada pegawai mengenai apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan
kinerja mereka sesuai dengan targert yang ditetapkan. Pemberian umpan balik ini
hendaknya diiringi dengan pemberian fasilitas yang memadai bagi karyawan untuk
mencapainya. Beberapa
hal yang dapat dilakukan antara lain:
ü Mengurangi hambatan yang ada
Misalnya
peralatan kantor yang ada sudah out of date (penggunaan komputer dengan
kecepatan processor 486 mhz, sedangkan aplikasi yang dijalankan menuntut
penggunaan processor di atas 2 ghz); kurang efisiennya desain tempat kerja,
atau bisa juga disebabkan kurang efektifnya desain kerja. Untuk itulah,
hendaknya manajer senantiasa mendengarkan pendapat atau keluhan dari bawahan
guna mengurangi hambaatan dalam mencapai tujuan.
ü Menyiapkan sumber daya yang memadai
untuk penyelesaian kerja.
Misalnya
sumber daya modal, bahan maupun manusia. Meskipun hambatan telah dikurangi oleh
manajer, namun sumber daya yang dapat digunakan sangat terbatas (jumlah pegawai
yang dibutuhkan untuk penyelesaian suatu pekerjaan seharusnya 5 orang, namun
hanya tersedia 3 orang), maka tujuan mustahil akan tercapai.
ü Memberikan perhatian penuh dalam
perekrutan pegawai.
Hal
ini didasari bahwa tujuan hendaknya dicapai pada saat yang tepat, tempat yang
sesuai, dan orang yang tepat. Kualifikasi pegawai yang dibutuhkan tidak boleh
lebih dan tidak boleh kurang, misalnya pegawai yang direkrut untuk bagian
duplikasi (foto kopi) adalah seorang sarjana informatika atau pembuatan sistem
administrasi merekrut pegawai yang baru lulus dari sekolah kejuruan. Hendaknya
perekrutan juga tidak hanya mendasarkan pada strata pendidikan yang dimiliki
pelamar, namun, faktor lain juga dipertimbangkan, seperti pengalaman kerja,
kompetensi yang dimiliki, dan seterusnya.
c. Memotivasi pegawai.
Yang
harus dilakukan oleh seorang manajer untuk agar pegawai senantiasa tertantang
untuk mencapai target yang ditetapkan dan secara konsisten serta persisten
mencapainya. Beberapa
hal yang dapat dilakukan:
ü Memberikan imbalan yang dihargai
oleh pegawai
Pemberian
ini harus didiskusikan terlebih dahulu dengan pegawai mengenai hal apa yang
penting buat mereka, apakah peningkatan gaji, fasilitas, cuti, pengakuan dan
lain-lain. Hasil survei ini akan dijadikan bahan penentuan sistem imbalan bagi
pegawai, dan imbalan tersebut dapat menyerap keinginan dari para pegawai.
ü Memberikan imbalan secara tepat
dalam hal jumlah dan waktunya
Apabila
pegawai memenuhi target yang ditetapkan, organisasi harus memberikannya secara
tepat sesuai dengan yang dituangkan dalam peraturan. Hal ini sangat penting
untuk menjaga kredibilitas organisasi di mata pegawai dan memberikan motivasi
bagi pegawai untuk selalu mencapai target yang telah ditetapkan.
ü
Memberikan
imbalan secara adil, hal ini penting dilakukan untuk menjaga ketidakpuasan dari
masing-masing pihak. Apabila kerja dilakukan secara berkelompok, hendaknya
manajer juga mendapatkan input dari masing – masing anggota kelompok mengenai
kinerjanya. Masukan ini dapat dijadikan dasar pemberian imbalan yang adil bagi
setia anggota kelompok kerja yang dimaksud.
5.
Apa saja tugas pengawas kantor!
Tugas
Pengawas Kantor.
-
Tugas pokok
a. Memberikan instruksi untuk
melaksanakan pekerjaan.
b. Mengawasi pegawai-pegawai untuk mengetahui
apakah pekerjaan telah dilaksanakan.
c. Melatih pegawai-pegawai untuk
melaksanakn pekerjaan.
d. Memelihara hubungan antar manusia
yang baik dengan para pegawai
-
Dalam hubungannya dengan pekerjaan
a. Merencanakan pekerjaan per-sie.
b. Mengusahakan agar pekerjaan dapat
diselesaikan tepat pada waktunya.
c. Menjamin adanya ketelitian.
d. Mengkoordinasikan pekerjaan dengan
seksi-seksi atau bagian-bagian lain
e. Membagi pekerjaan secara adil.
f. Mengembangkan metode-metode baru
untuk melaksanakan pekerjaan
-
Dalam hubungannya dengan orang-orang
bawahan
a. Melatih orang-orang bawahan.
b. Mengembangkan latihan magang.
c. Medelegasikan tanggung jawab.
d. Mendamaikan
perselisihan-perselisihan perseorangan.
e. Memberi hutang, apabila perlu.
f. Memelihara disiplin, memberi celaan
apabila perlu
-
Dalam hubungannya dengan para atasan
dan teman-teman sekerja
a. Menerima tanggung jawab atas
pekerjaan kantor.
b. Bekerja sama dengan
pengawas-pengawas lainnya.
c. Mengizinkan dan mendorong pertukaran
pegawai.
d. Melaksanakna kebijaksanaan-kebijaksanaan
perusahaan
6.
Sebutkan dan jelaskan teknik pengawasan kualitas!
1. Teknik Pengawasan Kualitas
Beberapa cara atau teknik yang dapat
dilakukan dalam melakukan pengawasan kualitas (Leonard dan Hilgert (2004)
adalah:
a. Inspeksi Total.
Berupa
pengecekan menyeluruh terhadap seluruh unit kerja atau tugas yang dilakukan
oleh pegawai dan menjelaskan apakah standar kualitas minimum sudah tercapai dan
bila belum bagaimana memperbaikinya. Misalnya, dengan melakukan pengecekan
ulang terhadap hasil pengetikan suatu proposal apakah sesuai dengan kaidah eyd
atau penghitungan ulang terhadap tagihan yang akan dikirimkan ke pelanggan.
Namun teknik ini kurang efektif jika frekuensinya terlalu sering, apalagi tanpa
alasan yang kuat; karena pegawai akan merasa terlalu diawasi sehingga membuat
suasana kerja tidak kondusif.
b. Pengecekan pada area tertentu.
Dilakukan melalui
pengecekan kinerja pegawai di suatu departemen atau divisi tertentu, seperti
departemen keuangan, yang dilakukan secara periodik. Penggunaan komponen
statistik akan menambah validitas data yang diperoleh dalam fungsi pengawasan.
c. Pengontrolan kualitas dengan
statistik.
Apabila
inspeksi total belum diperlukan dan pengecekan pada divisi tertentu akurat,
manajer dapat menggunakan teknik ini dengan memakai data yang berbasis sampel
yang dipilih untuk menjamin validitas dan reliabilitas hasil pengukuran.
d. Kesalahan nihil.
Merupakan
teknik preventif terhadap potensi kesalahan yang dilakukan oleh pegawai sejak
pertama kali mengerjakan tugasnya. Hal ini juga dapat memotivasi pegawai untuk
selalu bebas dari kesalahan. Teknik ini diterapkan, mereka seyogyanya diberikan
imbalan yang setimpal atas tiadanya kesalahan yang dilakukan dan peningkatan
kinerja yang telah dilakukan.
2. Total Quality Management
Progam ini diimplementasikan untuk
menjamin tercapainya kualitas manajemen di organisasi quible (2001), TQM sangat
perlu dilakukan dalam administrasi perkantoran yang berpijak pada:
a. Kepuasan pelanggan
b. Pengukuran statistik yang akurat
c. Perbaikan secara terus menerus
terhadap produk maupun layanan yang diberikan
d. Bentuk hubungan baru dengan pegawai
7. Sebutkan dan jelaskan teknik pengawasan kuantitas!
1. Standar Kuantitas
Untuk
memulai pengontrolan, hendaknya organisasi mulai dengan mengumpulkan data
aktivitas di kantor dan dijadikan dasar untuk penetapan standar kualitas.
Pengukuran ini didesain untuk mendefinisikan dan menggambarkan apa yang
diharapkan dari pelaksanaan sebuah kerja, baik dari pegawai maupun dari pihak
organisasi. Seperti biasanya, dari waktu ke waktu volume pekerjaan
berfluktuasi. Ketersediaan data yang terukur akan menjadi informasi yang
berguna bagi pengelolaan kerja, terutama bagi pekerjaan yang berfluktuasi.
8.
Jelaskan
tentang metode pengawasan alternatif?
Beberapa isu strategis perlu
dipertimbangkan oleh Manajer Administrasi dalam melaksanakan fungsi pengawasan,
seperti tujuan dari pelaksanaan kontrol, kepercayaan terhadap sistem kontrol,
sikap menejer dan pegawai, frekuensi pelaksanaan, dan sumber juga data yang
digunakan untuk pengawasan. Selain jenis pengawasan di atas, Cascio (2003) juga
mengajukan dua metode pengawasan alternatif, yaitu:
a.
Behavior-oriented rating methods, yang merupakan metode
penilaian yang berorientasi pada perilaku pegawai, dengan membandingkan kinerja
karyawan yang satu dengan yang lain. Ada empat teknik yang dapat digunakan,
yaitu:
ü Teknik deskripsi
Penilai memberikan deskripsi terhadap bawahannya
mengenai kekuatan, kelemahan, dan potensi dari pegawai yang dinilai. Namun
sistem ini reliabilitasnya kurang, mengingat setiap penilai mempunyai penekanan
dan subjektivitas tersendiri terhadap masing-masing pegawai.
ü Behavior checklist
Behavior checklist yaitu teknik yang menyediakan daftar
perilaku yang berkaitan dengan pekerjaan, dan tugas penilai adalah memilih
pernyataan mana yang sesuai dengan kondisi kinerja pegawai. Biasanya teknik ini
menggunakan skala Likert untuk mendeskripsikan kinerja seorang pegawai, dan
Stockford dan Bissel (1949) menyatakan bahwa teknik ini lebih dapat diandalkan
dibandingkan teknik evaluatif (baik buruk). Tabel 9-1 mengilustrasikan teknik
ini.
Tabel Contoh Behavioral Checklist
Sangat setuju
|
setuju
|
netral
|
Tidak setuju
|
Sangat tidak setuju
|
|
Peegawai ini menyiapkan kerjanya dengan baik
|
|||||
Pegawai ini mudah di ajak berkomunikasi
|
|||||
Pegawai ini mempunyai ide yang bagus
|
|||||
Pegawai ini menguasai pekerjaannya dengan baik
|
ü Teknik skala penilaian secara grafis
Teknik skala penilaian secara grafis, yang relatif banyak
digunakan pada organisasi atau perusahaan (landy dan Rastegary, 1988). Walaupun
teknik ini kurang detail, namun mudah digunakan dalam waktu yang singkat.
Teknik ini juga mudah untuk di analisis secara kuantitatif, dan banyak tim
penilai lebih dapat menerima karena reliabilitas dan validitasnya relatif
teruji (Cascio, 1996). Tabel 9-2 mengilustrasikan teknik ini.
Tabel Contoh Skala Penilaian Secara
Grafis
Unsur penilaian
|
Tingkat kinerja
|
||||
Kurang memuaskan
|
Lumayan
|
Memuaskan
|
Sangat memuaskan
|
mengagumkan
|
|
Kehadiran
|
|||||
Penampilan
|
|||||
Kualitas kerja
|
|||||
Pengetahuan kerja
|
|||||
Dapat diandalkan
|
|||||
ü Behaviorrally anchored rating scales
(BARS)
Merupakan variasi dari teknik sebelumnya. Keuntungan
utama dari teknik ini adalah adanya pendeskripsian perilaku mana yang dapat
dikategorikan sebagai prestasi kerja yang memuaskan, sedang-sedang saja, dan
kurang memuaskan. Namun teknik ini membutuhkan usaha yang lebih banyak untuk
mengembangkan skala yang dapat diterima oleh semua pihak.
b.
Results-oriented rating methods, merupakan metode yang
menitikberatkan pada hasil dari kerja yang dibebankan kepada pegawai. Ada dua
teknik yang dapat digunakan, yaitu:
ü Management by objectives.
Management by objectives, yang didasarkan pada
penetapan tujuan bagi organisasi secara keseluruhan, bagi masing-masing
departemen atau divisi, maupun masing-masing pegawai. Teknik ini tidak mengukur
perilaku pegawai, namun kontribusi mereka terhadap organisasi (campbell,
dunnette, lawler dan weick, 1970). Sebelum menentukan tujuan, manajer harus
mendiskusikan tujuan umum apa yang akan dicapai untuk periode waktu tertentu
(tiap kwartal, semester, atau tahunan). Selanjutnya pembuatan rencana mengenai
bagaimana dan kapan tujuan tersebut akan tercapai, dan terakhir
persetujuan mengenai kapan akan dimulainya upaya tersebut.
ü Work planning and review.
Work planning and review, menitikberatkan pada
periodisitas penilaian rencana kerja oleh tim penilai dan bawahan untuk
mengidentifikasi tujuan yang tercapai, masalah yang harus dipecahkan, dan
training yang diperlukan (meyer, kay, dan french, 1965).
9.
Apa
perbedaan pengawasan kualitas dan pengawasan kuantitas!
Sesuai
dengan tujuannya, organisasi melakukan pengawasan untuk meningkatkan efisiensi
dan efektivitas sebuah aktivitas kerja di kantor pada rentang waktu tertentu.
Untuk menghasilkan pengukuran yang baik, evaluasi harus di dasarkan pada data
yang akurat. Kontrol terhadap kualitas mencakup evaluasi atas keakuratan
pekerjaan yang dilakukan, dan kontrol kuantitas lebih mengarah pada
kuantifikasi komponen-komponen evaluasi agar tujuan yang ditetapkan dapat
tercapai.
10.
Bagaimana
menurut anda cara mengontrol fluktuasi pekerjaan
kantor?
Untuk mengontrol fluktuasi pekerjaan kantor, beberapa
tindakan yang dapat dilakukan (Quible, 2001 dan Odgers, 2005) antara lain:
a.
Overtime, banyak perusahaan yang menambah jam kerja (lembur)
untuk menyelesaikan suatu pekerjaanndengan deadline yang terbatas atau volume
pekerjaan yang menumpuk. Untuk itu Manajer Administrasi harus menyadari adanya
potensi penurunan produktivitas jika terdapat penambahan jam kerja bagai
pegawai karena rasa lelah yang menyertainnya.
b. Temporary help, jika penambahan jam
kerja kurang memadai atau kurang tepat dilakukan, pemakaian tenaga temporer
dalam menghadapi peak season dapat dilakukan.
c. Part-time help, jika fluktuasi
terjadi secara reguler, menyewah tenaga kerja paruh waktu juga dapat dilakukan.
d. Floating work unit, beberapa
organisasi telah mengembangkan unit kerja yang akan dipakai jika memang mereka
diperlukan dalam penyelesaian proyek dengan volume kerja yang tinggi atau time
limit yang terbatas.
e. Cycle billing, banyak organisasi
yang mengurangi antrian layanan yang akan dilakukan.
11.
Menurut
anda, cara-cara yang bagaimana yang lebih efektif dan efisien didalam
pengawasan di perusahaan?
Proses
pengawasan yang efektif pada perusahaan adalah dengan menggunakan cara
melakukan pengawasan langsung ditempat, sehingga apapun yang diawasi oleh
seorang pengawas dapat terlihat langsung dan sesuai dengan sebenernya.
Pengawasan langsung ditempat dinyatakan lebih efektif dan efisien karna dapat
meminimalisir biaya yang keluar selain itu data-data yang diperoleh sangat
akurat karena dapat dibuktikan dan sesuai dengan kenyataan. Sebenarnya suatu
perusahaan bisa saja tidak hanya memiliki satu cara dalam pelaksanaan
pengawasan. Beberapa cara lain yang salah satunya adalah dengan menggunakan
cara laporan tertulis, hal ini ditempuh demi memudahkan dalam pengarsipan
proses-proses kinerja perusahaan. Laporan tertulis juga dapat membantu ketika
seseorang manajer yang diwakili oleh asistennya, karena seluruh proses produksi
telah tercatat, dan asisten hanya melanjutkan.
12.
Pengawasan
apa saja yang sebaiknya dilakukan perusahaan?
Pengawasan
yang sebaiknya dilakukan perusahaan adalah Pengawasan dilihat dari segi objek
disebut juga pengawasan administratif dan operatif. Contoh pengawasan
administratif ialah pengawasan pembiayaan, inspeksi dan pengawasan order dan
pengawasan kebijaksanaan. Pengawasan dilihat dari segi objek juga merupakan
pengawasan terhadap produksi, keuangan, aktivitas karyawan dan sebagainya.
·
Pengawasan terhadap produksi,
pengawasan ini dipusatkan kepada proses produksi dari barang mentah hingga
menjadi barang siap jual atau dipasarkan, yang kesemuanya itu akan dilaporkan.
Biasanya pengawasan produksi ini dilakukan oleh seorang manajer yang bergerak
dibidang produksi. Sehingga keseluruhan tanggung jawab produksi akan
dipertanggungjawabkan kepada manajer bagian produksi dan laporannya akan
diserahkan kepada atasan.
·
Pengawasan terhadap keuangan,
pengawasan ini biasanya hanya memusatkan diri kepada masalah keuangan
perusahaan, yang pada umumnya dilaksanakan oleh akuntan perusahaan atau audit
internal. Pengawasan ini dilaksanakan oleh manajer personalia bagian keuangan
yang bertindak tim eudit perusahaan. Bagian ini mengawasi setiap uang yng
keluar masuk perusahaan.
·
Pengawasan terhadap aktivitas
karyawan, pengawasan ini hanya mengawasi tingkah laku karyawan, kinerja dari
karyawan perusahaan, hingga kemampuan mereka untuk berproduksi. Bagian yang
biasa mengawasi karyawan biasanya adalah bagian personalia yang mengurusi
ketenagakerjaan.
Pengawasan
dengan cara ini lebih terstruktur dan efektif mengingat suatu perusahaan begitu
banyak oranisasi-organisasi (lini) yang menaungi program kerja masing-masing
sehingga pengawasan model ini lebih tersusun rapi. Atasan hanya menerima
laporan dari tiap-tiap manajer yang telah melakukan pengawasan, kemudian
seorang atasan tersebut memberikan keputusan terhadap hasil laporan pengawasan
tersebut. Jika perusahaan tersebut terdapat beberapa penyimpangan maka atasan
akan memberikan instruksi kepada manajer untuk melakukan perbaikan, dan jika
tidak ditemui penyimpangan yang tidak diinginkan maka proses produksi dapat
berlanjut kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar