Minggu, 12 Juni 2016

SOAL DAN JAWABAN MATERI SISTEM PENGAWASAN KANTOR



Nama : Trisna Shinta Dewi
NIM    : 145213030
Prodi   : D-III Administrasi Bisnis

SOAL DAN JAWABAN MATERI SISTEM PENGAWASAN KANTOR
1.    Apa tujuan pengawasan kantor. Berdasarkan teori yang ada!
Beberapa tujuan pengawasan administarsi kantor menurut Odges (2005) adalah:
a.       Meningkatkan kinerja organisasi secara kontinu, karena kondisi persaingan usaha yang semakin tinggi menununtut organisasi untuk setiap saat mengawasi kinerjanya.
b.      Meningkatkan efesiensi dan keuntungan bagi organisasi dengan menghilangkan pekerjaan yang tidak perlu atau mengurangi penyalahgunaan alat atau bahan.
c.       Menilai derajat penyampaian rencana kerja dengan hasil aktual yang dicapai, dan dapat dipakai sebagai dasar pemberian kompensasi bagi seorang pegawai.
d.      Mengkoordinasikan beberapa elemen tugas atau progam yang dijalankan.
e.       Meningkatkan keterkaitan terhadap tujuan organisasi agar tercapai

2.    Apa Manfaat pengawasan dan kontrol pada perusahaan!
Bebrapa manfaat kontrol administrasi kantor menurut Quible (2001) antara lain:
a.       Membantu memaksimalkan keuntungan yang diperoleh organisasi
b.      Membantu pegawai dalam meningkatkan produktivitas karena kesadaran akan kualitas dan kuantitas output yang dibutuhkan
c.       Menyediakan alat ukur produktivitas pegawai atau aktifitas yang objektif bagi organisasi
d.      Mengidentifikasi beberapa hal yang membuat rencana yang tidak sesuai dengan hasil aktual yang dicapai, dan memfasilitasi pemodifikasinya
e.       Membantu pencapaian kerja sesuai tingkat atau deadline yang ditetapkan

3.    Apa saja unsur-unsur pengawasan? Jelaskan berdasarkan teori!
Menurut Quible (2001), proses pengawasan akan kurang optimal jika unsur-unsur dibawah dibawah ini dihilangkan:
a.       Faktor-faktor yang diawasi.
Sebelum pengawasan dilakukan seyogyanya stakeholders internal diberikan pemahaman tentang faktor-faktor apa saja yang akan di awasi. Tentu saja, pengawasan terhadap faktor yang tidak terlalu penting akan mengakibatkan waktu dan tenaga terbuang sia – sia.
b.      Identifikasi hasil yang diharapkan
Identifikasi parameter yang kurang jelas mengenai hasil yang diinginkan dari aktivitas pekerjaan yang dilakukan membuat pengawasan tidak akan berjalan dengan efektif. Untuk itulah, keterlibatan semua pihak (termasuk pihak yang akan di awasi) mutlak perlu dilakukan, bila perlu organisasi dapat mengundang konsultan untuk menentukan alat ukur yang akan digunakan.
c.       Pengukuran kinerja
Sebelum hasil aktual dan hasil yang di inginkan dibandingkan, hasil aktual harus di ukur. Dalam beberapa hal, pengukuran ini juga menjelaskan output kuantitas. Dalam organisasi yang menerapkan konsep TQM, pengukuran lebih ditekankan pada seberapa baik pelanggan dilayani oleh organisasi.
d.      Aplikasi tindakan pembenahan
Apabila hasil aktual kurang dari hasil yang diharapkan, perlu dilakukan tindakan koreksi untuk memperkecil gap yang terjadi dengan mengimplementasikan hal yang di anggap perlu. Misalnya, dalam pemenuhan order pembelian yang akan terealisasi maksimal 3 hari setelah order dilakukan tetapi ketika sudah waktunya belum tercapai, ternyata fasilitas komunikasi antara divisi administrasi penjualan dengan gudang tidak difasilitasi dengan alat komunikasi yang memadai, sehigga perlu ditunjang dengan alat komunikasi yang representatif.

4.    Jelaskan Proses pengawasan kantor. Berdasarkan teori!
Berdasarkan pendapat Cascio (2003), ada 3 proses yang harus dilakukan dalam mengontrol pekerjaan administrasi kantor:
a.       Mengidentifikasi parameter pekerjaan yang akan diawasi
Hal ini akan membantu pegawai untuk mengetahui kinerja yang diharapkan terhadap mereka dan secara efektif dapat mencapainya. Manajer dapat melakukannya dengan melakukan hal-hal berikut:
ü  Penetapan tujuan
Dalam beberapa penelitian yang berbeda, tempat maupun budaya menunjukan bahwa tujuan yang telah ditetapkan dapat meningkatkan kinerja pegawai (Matsui, Kakuyama, dan Onglatco, 1987). Peningkatan ini diperoleh karena pegawai cenderung memberikan perhatian lebih dan mendorong mereka untuk mencapainya jika tujuan atau target yang harus dicapai dijelaskan secara detail (Tubbs, 1986), seperti peningkatan kepuasan pelanggan sebesar 10% dalam setahun atau pengurangan biaya telepon sebesar 15% dalam setahun.
ü  Standart ukuran
Standar ukuran merupakan syarat mutlak agar pegawai dapat mencapai kinerja yang diharapkan apabila alat ukurnya ditetapkan secara objektif. Untuk itulah, tujuan hendaknya ditetapkan sedetail mungkin sehingga pengukuran yang objektif dapat dilakukan. Misalnya, Tujuan organisasi “menjadikan organisasi lebih baik” sangat sulit untuk di ukur. Menurut Leonard dan Hilgert (2004), terdapat dua standar yang dapat digunakan oleh organisasi:
·         Standar terukur, merupakan standar kerja yang dapat diidentifikasi dan diukur dengan mudah. Misalnya, teller disebuah bangk ditargetkan untuk melayani 20 orang dalam menyelesaikan transaksi (penarikan, penyimpanan, maupun pembayaran), sehingga rata-rata nasabah dapat dilayani selama 3 menit.
·         Standar tak terukur, merupakan standar kerja yang sulit untuk dikuantifikasikan dan biasanya berhubungan dengan karakteristik hubugan manusia, seperti sikap terhadap pelanggan, tingkat moral yang tinggi, dan tingkat kepuasan terhadap pelayanan administrasi di kantor.
ü  Pengukuran
Merupakan inti dari pengontrolan atau pengawasan kantor. Hendaknya pengukuran ini dilakukan secara reguler, bisa per kuartal maupun semester, untuk menjamin tercapainya tujuan secara konsisten. Apabila penetapan tujuan maupun ukuran telah dilakukan dengan baik, namum proses pengukuran kinerja tidak dilakukan sebagaimana mestinya, maka akan menyebabkan keseluruhan proses pengontrolan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
b.      Memfasilitasi kinerja yang hendak dicapai.
Apabila proses pertama telah dilakukan, manajer administrasi hendaknya memberikan feedback kepada pegawai mengenai apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan kinerja mereka sesuai dengan targert yang ditetapkan. Pemberian umpan balik ini hendaknya diiringi dengan pemberian fasilitas yang memadai bagi karyawan untuk mencapainya. Beberapa hal yang dapat dilakukan antara lain:
ü  Mengurangi hambatan yang ada
Misalnya peralatan kantor yang ada sudah out of date (penggunaan komputer dengan kecepatan processor 486 mhz, sedangkan aplikasi yang dijalankan menuntut penggunaan processor di atas 2 ghz); kurang efisiennya desain tempat kerja, atau bisa juga disebabkan kurang efektifnya desain kerja. Untuk itulah, hendaknya manajer senantiasa mendengarkan pendapat atau keluhan dari bawahan guna mengurangi hambaatan dalam mencapai tujuan.
ü  Menyiapkan sumber daya yang memadai untuk penyelesaian kerja.
Misalnya sumber daya modal, bahan maupun manusia. Meskipun hambatan telah dikurangi oleh manajer, namun sumber daya yang dapat digunakan sangat terbatas (jumlah pegawai yang dibutuhkan untuk penyelesaian suatu pekerjaan seharusnya 5 orang, namun hanya tersedia 3 orang), maka tujuan mustahil akan tercapai.
ü  Memberikan perhatian penuh dalam perekrutan pegawai.
Hal ini didasari bahwa tujuan hendaknya dicapai pada saat yang tepat, tempat yang sesuai, dan orang yang tepat. Kualifikasi pegawai yang dibutuhkan tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang, misalnya pegawai yang direkrut untuk bagian duplikasi (foto kopi) adalah seorang sarjana informatika atau pembuatan sistem administrasi merekrut pegawai yang baru lulus dari sekolah kejuruan. Hendaknya perekrutan juga tidak hanya mendasarkan pada strata pendidikan yang dimiliki pelamar, namun, faktor lain juga dipertimbangkan, seperti pengalaman kerja, kompetensi yang dimiliki, dan seterusnya.
c.       Memotivasi pegawai.
Yang harus dilakukan oleh seorang manajer untuk agar pegawai senantiasa tertantang untuk mencapai target yang ditetapkan dan secara konsisten serta persisten mencapainya. Beberapa hal yang dapat dilakukan:
ü  Memberikan imbalan yang dihargai oleh pegawai
Pemberian ini harus didiskusikan terlebih dahulu dengan pegawai mengenai hal apa yang penting buat mereka, apakah peningkatan gaji, fasilitas, cuti, pengakuan dan lain-lain. Hasil survei ini akan dijadikan bahan penentuan sistem imbalan bagi pegawai, dan imbalan tersebut dapat menyerap keinginan dari para pegawai.
ü  Memberikan imbalan secara tepat dalam hal jumlah dan waktunya
Apabila pegawai memenuhi target yang ditetapkan, organisasi harus memberikannya secara tepat sesuai dengan yang dituangkan dalam peraturan. Hal ini sangat penting untuk menjaga kredibilitas organisasi di mata pegawai dan memberikan motivasi bagi pegawai untuk selalu mencapai target yang telah ditetapkan.
ü Memberikan imbalan secara adil, hal ini penting dilakukan untuk menjaga ketidakpuasan dari masing-masing pihak. Apabila kerja dilakukan secara berkelompok, hendaknya manajer juga mendapatkan input dari masing – masing anggota kelompok mengenai kinerjanya. Masukan ini dapat dijadikan dasar pemberian imbalan yang adil bagi setia anggota kelompok kerja yang dimaksud.



5.    Apa saja tugas pengawas kantor!
Tugas Pengawas Kantor.
-          Tugas pokok
a.       Memberikan instruksi untuk melaksanakan pekerjaan.
b.      Mengawasi pegawai-pegawai untuk mengetahui apakah pekerjaan telah dilaksanakan.
c.       Melatih pegawai-pegawai untuk melaksanakn pekerjaan.
d.      Memelihara hubungan antar manusia yang baik dengan para pegawai
-          Dalam hubungannya dengan pekerjaan
a.       Merencanakan pekerjaan per-sie.
b.      Mengusahakan agar pekerjaan dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
c.       Menjamin adanya ketelitian.
d.      Mengkoordinasikan pekerjaan dengan seksi-seksi atau bagian-bagian lain
e.       Membagi pekerjaan secara adil.
f.       Mengembangkan metode-metode baru untuk melaksanakan pekerjaan
-          Dalam hubungannya dengan orang-orang bawahan
a.       Melatih orang-orang bawahan.
b.      Mengembangkan latihan magang.
c.       Medelegasikan tanggung jawab.
d.      Mendamaikan perselisihan-perselisihan perseorangan.
e.       Memberi hutang, apabila perlu.
f.       Memelihara disiplin, memberi celaan apabila perlu
-          Dalam hubungannya dengan para atasan dan teman-teman sekerja
a.       Menerima tanggung jawab atas pekerjaan kantor.
b.      Bekerja sama dengan pengawas-pengawas lainnya.
c.       Mengizinkan dan mendorong pertukaran pegawai.
d.      Melaksanakna kebijaksanaan-kebijaksanaan perusahaan

6.    Sebutkan dan jelaskan teknik pengawasan kualitas!
1.      Teknik Pengawasan Kualitas
Beberapa cara atau teknik yang dapat dilakukan dalam melakukan pengawasan kualitas (Leonard dan Hilgert (2004) adalah:
a.       Inspeksi Total.
Berupa pengecekan menyeluruh terhadap seluruh unit kerja atau tugas yang dilakukan oleh pegawai dan menjelaskan apakah standar kualitas minimum sudah tercapai dan bila belum bagaimana memperbaikinya. Misalnya, dengan melakukan pengecekan ulang terhadap hasil pengetikan suatu proposal apakah sesuai dengan kaidah eyd atau penghitungan ulang terhadap tagihan yang akan dikirimkan ke pelanggan. Namun teknik ini kurang efektif jika frekuensinya terlalu sering, apalagi tanpa alasan yang kuat; karena pegawai akan merasa terlalu diawasi sehingga membuat suasana kerja tidak kondusif.
b.      Pengecekan pada area tertentu.
Dilakukan melalui pengecekan kinerja pegawai di suatu departemen atau divisi tertentu, seperti departemen keuangan, yang dilakukan secara periodik. Penggunaan komponen statistik akan menambah validitas data yang diperoleh dalam fungsi pengawasan.
c.       Pengontrolan kualitas dengan statistik.
Apabila inspeksi total belum diperlukan dan pengecekan pada divisi tertentu akurat, manajer dapat menggunakan teknik ini dengan memakai data yang berbasis sampel yang dipilih untuk menjamin validitas dan reliabilitas hasil pengukuran.
d.      Kesalahan nihil.
Merupakan teknik preventif terhadap potensi kesalahan yang dilakukan oleh pegawai sejak pertama kali mengerjakan tugasnya. Hal ini juga dapat memotivasi pegawai untuk selalu bebas dari kesalahan. Teknik ini diterapkan, mereka seyogyanya diberikan imbalan yang setimpal atas tiadanya kesalahan yang dilakukan dan peningkatan kinerja yang telah dilakukan.
2.      Total Quality Management
Progam ini diimplementasikan untuk menjamin tercapainya kualitas manajemen di organisasi quible (2001), TQM sangat perlu dilakukan dalam administrasi perkantoran yang berpijak pada:
a.       Kepuasan pelanggan
b.      Pengukuran statistik yang akurat
c.       Perbaikan secara terus menerus terhadap produk maupun layanan yang diberikan
d.      Bentuk hubungan baru dengan pegawai

7.    Sebutkan dan jelaskan teknik pengawasan kuantitas!
1.    Standar Kuantitas
Untuk memulai pengontrolan, hendaknya organisasi mulai dengan mengumpulkan data aktivitas di kantor dan dijadikan dasar untuk penetapan standar kualitas. Pengukuran ini didesain untuk mendefinisikan dan menggambarkan apa yang diharapkan dari pelaksanaan sebuah kerja, baik dari pegawai maupun dari pihak organisasi. Seperti biasanya, dari waktu ke waktu volume pekerjaan berfluktuasi. Ketersediaan data yang terukur akan menjadi informasi yang berguna bagi pengelolaan kerja, terutama bagi pekerjaan yang berfluktuasi.

8.        Jelaskan tentang metode pengawasan alternatif?
Beberapa isu strategis perlu dipertimbangkan oleh Manajer Administrasi dalam melaksanakan fungsi pengawasan, seperti tujuan dari pelaksanaan kontrol, kepercayaan terhadap sistem kontrol, sikap menejer dan pegawai, frekuensi pelaksanaan, dan sumber juga data yang digunakan untuk pengawasan. Selain jenis pengawasan di atas, Cascio (2003) juga mengajukan dua metode pengawasan alternatif, yaitu:
a.       Behavior-oriented rating methods, yang merupakan metode penilaian yang berorientasi pada perilaku pegawai, dengan membandingkan kinerja karyawan yang satu dengan yang lain. Ada empat teknik yang dapat digunakan, yaitu:
ü  Teknik deskripsi
Penilai memberikan deskripsi terhadap bawahannya mengenai kekuatan, kelemahan, dan potensi dari pegawai yang dinilai. Namun sistem ini reliabilitasnya kurang, mengingat setiap penilai mempunyai penekanan dan subjektivitas tersendiri terhadap masing-masing pegawai.
ü  Behavior checklist
Behavior checklist yaitu teknik yang menyediakan daftar perilaku yang berkaitan dengan pekerjaan, dan tugas penilai adalah memilih pernyataan mana yang sesuai dengan kondisi kinerja pegawai. Biasanya teknik ini menggunakan skala Likert untuk mendeskripsikan kinerja seorang pegawai, dan Stockford dan Bissel (1949) menyatakan bahwa teknik ini lebih dapat diandalkan dibandingkan teknik evaluatif (baik buruk). Tabel 9-1 mengilustrasikan teknik ini.

Tabel Contoh Behavioral Checklist

Sangat setuju
setuju
netral
Tidak setuju
Sangat tidak setuju
Peegawai ini menyiapkan kerjanya dengan baik





Pegawai ini mudah di ajak berkomunikasi





Pegawai ini mempunyai ide yang bagus





Pegawai ini menguasai pekerjaannya dengan baik






ü  Teknik skala penilaian secara grafis
Teknik skala penilaian secara grafis, yang relatif banyak digunakan pada organisasi atau perusahaan (landy dan Rastegary, 1988). Walaupun teknik ini kurang detail, namun mudah digunakan dalam waktu yang singkat. Teknik ini juga mudah untuk di analisis secara kuantitatif, dan banyak tim penilai lebih dapat menerima karena reliabilitas dan validitasnya relatif teruji (Cascio, 1996). Tabel 9-2 mengilustrasikan teknik ini.
Tabel Contoh Skala Penilaian Secara Grafis
Unsur penilaian
Tingkat kinerja
Kurang memuaskan
Lumayan
Memuaskan
Sangat memuaskan
mengagumkan
Kehadiran





Penampilan





Kualitas kerja





Pengetahuan kerja





Dapat diandalkan






ü  Behaviorrally anchored rating scales (BARS)
Merupakan variasi dari teknik sebelumnya. Keuntungan utama dari teknik ini adalah adanya pendeskripsian perilaku mana yang dapat dikategorikan sebagai prestasi kerja yang memuaskan, sedang-sedang saja, dan kurang memuaskan. Namun teknik ini membutuhkan usaha yang lebih banyak untuk mengembangkan skala yang dapat diterima oleh semua pihak.
b.      Results-oriented rating methods, merupakan metode yang menitikberatkan pada hasil dari kerja yang dibebankan kepada pegawai. Ada dua teknik yang dapat digunakan, yaitu:
ü  Management by objectives.
Management by objectives, yang didasarkan pada penetapan tujuan bagi organisasi secara keseluruhan, bagi masing-masing departemen atau divisi, maupun masing-masing pegawai. Teknik ini tidak mengukur perilaku pegawai, namun kontribusi mereka terhadap organisasi (campbell, dunnette, lawler dan weick, 1970). Sebelum menentukan tujuan, manajer harus mendiskusikan tujuan umum apa yang akan dicapai untuk periode waktu tertentu (tiap kwartal, semester, atau tahunan). Selanjutnya pembuatan rencana mengenai bagaimana  dan kapan tujuan tersebut akan tercapai, dan terakhir persetujuan mengenai kapan akan dimulainya upaya tersebut.
ü  Work planning and review.
Work planning and review, menitikberatkan pada periodisitas penilaian rencana kerja oleh tim penilai dan bawahan untuk mengidentifikasi tujuan yang tercapai, masalah yang harus dipecahkan, dan training yang diperlukan (meyer, kay, dan french, 1965).

9.        Apa perbedaan pengawasan kualitas dan pengawasan kuantitas!
Sesuai dengan tujuannya, organisasi melakukan pengawasan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas sebuah aktivitas kerja di kantor pada rentang waktu tertentu. Untuk menghasilkan pengukuran yang baik, evaluasi harus di dasarkan pada data yang akurat. Kontrol terhadap kualitas mencakup evaluasi atas keakuratan pekerjaan yang dilakukan, dan kontrol kuantitas lebih mengarah pada kuantifikasi komponen-komponen evaluasi agar tujuan yang ditetapkan dapat tercapai.

10.    Bagaimana menurut anda cara mengontrol fluktuasi pekerjaan kantor?
Untuk mengontrol fluktuasi pekerjaan kantor, beberapa tindakan yang dapat dilakukan (Quible, 2001 dan Odgers, 2005) antara lain:
a.       Overtime, banyak perusahaan yang menambah jam kerja (lembur) untuk menyelesaikan suatu pekerjaanndengan deadline yang terbatas atau volume pekerjaan yang menumpuk. Untuk itu Manajer Administrasi harus menyadari adanya potensi penurunan produktivitas jika terdapat penambahan jam kerja bagai pegawai karena rasa lelah yang menyertainnya.
b.      Temporary help, jika penambahan jam kerja kurang memadai atau kurang tepat dilakukan, pemakaian tenaga temporer dalam menghadapi peak season dapat dilakukan.
c.       Part-time help, jika fluktuasi terjadi secara reguler, menyewah tenaga kerja paruh waktu juga dapat dilakukan.
d.      Floating work unit, beberapa organisasi telah mengembangkan unit kerja yang akan dipakai jika memang mereka diperlukan dalam penyelesaian proyek dengan volume kerja yang tinggi atau time limit yang terbatas.
e.       Cycle billing, banyak organisasi yang mengurangi antrian layanan yang akan dilakukan.

11.    Menurut anda, cara-cara yang bagaimana yang lebih efektif dan efisien didalam pengawasan di perusahaan?
Proses pengawasan yang efektif pada perusahaan adalah dengan menggunakan cara melakukan pengawasan langsung ditempat, sehingga apapun yang diawasi oleh seorang pengawas dapat terlihat langsung dan sesuai dengan sebenernya. Pengawasan langsung ditempat dinyatakan lebih efektif dan efisien karna dapat meminimalisir biaya yang keluar selain itu data-data yang diperoleh sangat akurat karena dapat dibuktikan dan sesuai dengan kenyataan. Sebenarnya suatu perusahaan bisa saja tidak hanya memiliki satu cara dalam pelaksanaan pengawasan. Beberapa cara lain yang salah satunya adalah dengan menggunakan cara laporan tertulis, hal ini ditempuh demi memudahkan dalam pengarsipan proses-proses kinerja perusahaan. Laporan tertulis juga dapat membantu ketika seseorang manajer yang diwakili oleh asistennya, karena seluruh proses produksi telah tercatat, dan asisten hanya melanjutkan.

12.    Pengawasan apa saja yang sebaiknya dilakukan perusahaan?
Pengawasan yang sebaiknya dilakukan perusahaan adalah Pengawasan dilihat dari segi objek disebut juga pengawasan administratif dan operatif. Contoh pengawasan administratif ialah pengawasan pembiayaan, inspeksi dan pengawasan order dan pengawasan kebijaksanaan. Pengawasan dilihat dari segi objek juga merupakan pengawasan terhadap produksi, keuangan, aktivitas karyawan dan sebagainya.
·      Pengawasan terhadap produksi, pengawasan ini dipusatkan kepada proses produksi dari barang mentah hingga menjadi barang siap jual atau dipasarkan, yang kesemuanya itu akan dilaporkan. Biasanya pengawasan produksi ini dilakukan oleh seorang manajer yang bergerak dibidang produksi. Sehingga keseluruhan tanggung jawab produksi akan dipertanggungjawabkan kepada manajer bagian produksi dan laporannya akan diserahkan kepada atasan.
·      Pengawasan terhadap keuangan, pengawasan ini biasanya hanya memusatkan diri kepada masalah keuangan perusahaan, yang pada umumnya dilaksanakan oleh akuntan perusahaan atau audit internal. Pengawasan ini dilaksanakan oleh manajer personalia bagian keuangan yang bertindak tim eudit perusahaan. Bagian ini mengawasi setiap uang yng keluar masuk perusahaan.
·      Pengawasan terhadap aktivitas karyawan, pengawasan ini hanya mengawasi tingkah laku karyawan, kinerja dari karyawan perusahaan, hingga kemampuan mereka untuk berproduksi. Bagian yang biasa mengawasi karyawan biasanya adalah bagian personalia yang mengurusi ketenagakerjaan.
Pengawasan dengan cara ini lebih terstruktur dan efektif mengingat suatu perusahaan begitu banyak oranisasi-organisasi (lini) yang menaungi program kerja masing-masing sehingga pengawasan model ini lebih tersusun rapi. Atasan hanya menerima laporan dari tiap-tiap manajer yang telah melakukan pengawasan, kemudian seorang atasan tersebut memberikan keputusan terhadap hasil laporan pengawasan tersebut. Jika perusahaan tersebut terdapat beberapa penyimpangan maka atasan akan memberikan instruksi kepada manajer untuk melakukan perbaikan, dan jika tidak ditemui penyimpangan yang tidak diinginkan maka proses produksi dapat berlanjut kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar